Kamis, 14 November 2019

Gagal nyeput,Masih banyak kesempatan lain




             Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan,  dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu kebuyaan yang ada di Lombok Utara yang masih ada dan tersimpan rapi oleh seseorng yang masih mempertahannkannya. Salah satunya adalah Naskah Kuno.  Naskah kuno adalah benda budaya yang merekam informasi dan pengetahuan masyarakat lampau yang di turunkan secara turun temurun semenjak dulu sampai sekarang  ini.  Warisan budaya berupa naskah kuno tersebut bermacam-macam bentuknya dan tersebar di seluruh Indonesia, di tulis dengan berbagai bahasa dan aksara.
              Ada 5 jenis naskah kuno di KLU yang di miliki Bapak Nursampatahul Bayan, yaitu :
1.       Bayan Alif
2.       Doyan Mangan
3.       Amar Hukum
4.       Prudaksina
5.       Inder Jaya

                              

             Dari blog yang sebelumnya di ceritakan tentang perjalan kami mencari tepat keberadaan Naskah Kuno tersebut. Selanjutnya kita mulai menanyakan tetang hal-hal yang tidak semua orang mengetahui dan berani melakukannya. Pada hari Sabtu, 9 November 2019 kami berangkat dari Mataram ke KLU pukul 16.00. Sama seperti perjalanan yang pertama kami nyampe sebelum magrib. Hal yang sama terulang lagi yaitu mati lampu. Kenapa di saat kami ke KLU pasti mati lampu. Setelah beristirah dan bersih-bersih kamipun memulai diskusi sembari menunggu lampunya nyala.
            Harapan yang di inginkan bisa tercapai. Lampu akhirnya nyala dan kami bergeser ke rumah Puq Cam. Setelah menjelaskan tujuan kami datang kembali kepada beliau, akhirnya di terima. Akan tetapi hal tidak terduga muncul. Puc Cam tidak menjelaskan tentang nyeput dan tradisinya. Ketika di jelaskan oleh beberapa anggota dan bapak Masriadi beliau mengatakan bahwa dia telah melakukan nyeput dengan cara meramal nama-nama dari beberaa orang kelompok kami. Kamipun hnya mendengarkan Puq Cam yang membacakan Naskah Kuno tersebut dengan begitu merdu menggunakan lagu dang-dang.  Waktupun berlalu begitu cepat kami bergeser dari rumah Puq Cam ke rumah bapak Masriadi.
           Walaupun kami tidak di kasus nyeput, akan tetapi ada salah seorang dari 10 orang yang ikut itu pernah nyeput. Berdasarkan pernyataan saudari Ningsih dia melakukan nyeput di Kuripan Lombok Barat. Ia diminta untuk mengosongkan pikiran dan kuatkan niat untuk melaksanakan nyeput. Ketika hal demikian sudah dilakukan selanjutnya penyeput memejamkan mata dan memilih salah satu daun duntal dalam kumpulan naskah kuno.
           Itulah pernyataan nyeput dari salah satu kelompok kami di Kuripan Lombok Barat. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Jangan pernah merasa bosan dan lelah dalam mencari dan memburu ilmu yang mulai hilang dalam kalangan anak muda sekarang. 

Sekian dan terima kasih.

                                 

1 komentar:

  1. Waaahhh makin nambah ilmu sya baca postingan ini..terimakasih udh di post kak

    BalasHapus